didi_DSCF8344Ada peribahasa yang berbunyi “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Saya rasa itulah saya. Ayah saya adalah seorang anggota Wanadri (organisasi kegiatan alam bebas) yang sudah menaklukkan Mount Blanc pada 1980-an. Ia menjadi inspirator saya yang amat saya sayangi.

Sejak saya duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP), keinginan untuk mendaki gunung semakin kuat. Kakak saya yang tertua pun mengikuti jejak ayah sebagai penggiat mendaki gunung. Semakin kuatlah keinginan saya untuk segera bisa menaklukkan gunung-gunung yang menjulang. Mimpi itu harus menjadi kenyataan meskipun ibu melarang saya masuk sekolah menengah atas (SMA) yang memiliki ekstrakurikuler pencinta alam. Akhirnya, saya masuk SMA yang homogen, SMA Tarakanita 1 Jakarta. Tak disangka, sekolah khusus perempuan itu mendidik saya sebagai perempuan yang tangguh dan tidak mudah menyerah.

Dengan tekad yang kuat, ketika lulus SMA, saya sengaja mencari perguruan tinggi yang memiliki organisasi pencinta alam yang bagus. Saya memutuskan berkuliah di UNPAR. Meski kampus itu berada di luar kota dan memaksa saya tinggal jauh dari orangtua, demi cita-cita menjadi pendaki gunung, saya mengambil risiko yang ada.

Mahasiswa Parahyangan Pencinta Alam (Mahitala) menjadi organisasi pencinta alam yang dikenal sampai dunia internasional. Selain itu, ketika saya masuk kuliah pada 2011, grup laki-laki Mahitala baru saja menyelesaikan ekspedisi 7Summits dunia. Tercetus di benak saya, “Apa saya bisa?”

Saya tidak langsung menjadi anggota pada 2011 karena sempat terserang penyakit hepatitis yang mewabah di kampus. Saya jadi tidak bisa terlalu lelah dan harus menjaga kondisi tubuh. Namun, saya tidak menyerah. Pada 2013, saya baru bisa menjadi anggota Mahitala dan proses mendaki mimpi baru dimulai.

Setahun kemudian, Juni 2014, Mahitala membuka pendaftaran untuk 7Summits khusus untuk perempuan. “Ini kesempatan saya untuk mewujudkan mimpi,” pikir saya saat mendengar kabar baik itu. Dari 12 orang yang mendaftar, hanya dipilih empat setelah mengikuti tes psikologi dan fisik. Saya adalah satu dari empat orang tersebut. Ketika pengumuman seleksi diumumkan, saya langsung menangis. Bukan saya karena terharu apalagi sedih. Saya takut. “Apa saya bisa?” Pertanyaan itu kembali muncul.

Hanya berselang dua bulan, yakni Agustus, saya berhasil menaklukkan Cartenz Pyramid (4.884 mdpl) di Papua. Gunung pertama dari tujuh gunung tertinggi di dunia menjadi awal dari ekspedisi bersama tiga rekan lainnya. Kebahagiaan yang saya rasa terasa berbeda ketika mendaki gunung-gunung lain di Indonesia. Kami mengibarkan Bendera Merah Putih, bendera Mahitala, dan membunyikan angklung yang selalu kami bawa sebagai simbol Jawa Barat di atas gunung tertinggi di Indonesia. Saat itu, saya baru menyadari bahwa arti kebahagiaan untuk saya adalah ketika di atas gunung.

Waktu berlalu. Pada Mei 2015, Gunung Elbruz (5.642 mdpl) di Rusia dan Kilimanjaro (5.895 mdpl) di Tanzania, Afrika, berhasil kami taklukkan pula. Nama kami sebagai 7Summiters perempuan pertama di Indonesia pun dikenal di Indonesia dan dunia internasional. Kami bangga menjadi bagian dari misi mengharumkan nama bangsa di mata dunia.

Dengan segala kerendahan hati, pada Januari 2012, ekspedisi dilanjutkan dengan pendakian ke Gunung Aconcagua (6.962 mdpl) di Argentina. Pertama kali diterjang badai salju yang berkecepatan 40 km/jam dengan suhu -30 derajat Celcius. Kali ini salah satu teman kami tidak bisa melanjutkan perjalanan karena terserang AMS (Acute Mountain Sickness). Semakin menipisnya oksigen membuat ia sulit bernapas sampai hilang kesadaran. Ia pun tinggal di perkemahan dengan tenaga medis yang ada.

Satu teman harus berhenti, tetapi bukan berarti kami semua menyerah. Kami tetap melanjutkan perjalanan sampai puncak. Ketika kami turun dari puncak, ternyata teman kami harus dibawa ke rumah sakit dan menjalani operasi karena adanya penyempitan pembuluh darah di otak. Sebagai tim, kami harus tetap bersama sampai orangtuanya datang. Setelah itu, kami bisa pulang ke Indonesia dengan hasil yang baik meskipun teman kami yang sakit harus menghentikan ekspedisi 7 Summits.

Pada Desember 2016, saya melanjutkan ekspedisi ke Gunung Vinson Massif (4.892 mdpl) di Antartika bersama satu orang dari tim yang sama. Seharusnya kami bertiga, tetapi satu teman kami harus menghentikan ekspedisi karena sakit. Saya berangkat pada 20 Desember 2016 dan kembali ke Indonesia pada 23 Januari 2017. Saya bahagia bisa kembali ke Indonesia bersama tim dengan semakin mengharumkan nama Indonesia di dunia.

Saya bertekad untuk dapat menyelesaikan ekspedisi 7Summits perempuan ini. Dari 196 negara di dunia, hanya 14 negara yang memiliki 7Summiters perempuan. Dari 400 pendaki, hanya 33 yang perempuan. Saya bertekad untuk menjadi 7 Summiters perempuan ke-34 di dunia setelah menaklukkan Everest dan Denali yang direncanakan akan selesai pada Juni 2017.

didi_DSCF8382Jam Tangan Timex Expedition
Jam tangan pertama Didi. Hadiah ketika ia berulang tahun ke-20 dari orangtuanya. Jam ini telah menemani Didi menaklukkan empat gunung tertinggi di dunia. Jam ini bermaterial aluminium, memiliki tali kulit berwarna cokelat, display analog, berdiameter 40 mm, ketebalan 10 mm, dan lampu yang sangat berguna saat mendaki gunung. Selain itu, tahan air hingga 100 meter. Jam ini juga menjadi jam dengan penjualan terbaik selama 10 tahun terkahir. Harga sekitar Rp.700.000. Ketahanan jam ini terhadap cuaca dan suhu udara yang ekstrem diakui Didi sangat baik karena sampai saat ini belum ada kerusakan pada jamnya.

didi_DSCF8393JanSport Right Pack
Tas berwarna Viking Red ini telah menemani Didi sejak awal masuk kuliah di UNPAR. Tas ini bermuatan 31 L dengan dimensi 46x33x21 cm sehingga dapat memuat barang kebutuhan kuliah dan latihan fisik di Mahitala. Berbahan 915 Denier Cordura dengan suede leather di bagian bawah. Berat kosong tas sekitar 600 gram. Memiliki kantong depan yang cukup besar dan di bagian dalam tas terdapat pembatas untuk menyimpan laptop dengan ukuran 15 inci. Tas seharga Rp.999.000 ini hadir dalam 25 varian warna.

Fransiska Dimitri
Lahir pada 1993 di Jakarta. Akrab dipanggil Didi. Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional Universitas Parahyangan (UNPAR) Bandung. Perempuan pendaki gunung dari Mahitala, komunitas pencinta alam UNPAR. Sedang menjalani ekspedisi tujuh gunung tertinggi di dunia untuk perempuan. Menjadi perempuan 7Summiters pertama di Indonesia. Telah menyelesaikan pendakian empat gunung tertinggi, yakni Cartenz Pyramid, Elbruz, Kilimanjaro, dan Aconcagua. Baru saja kembali ke Indonesia seusai mendaki Vinson Massif, Antartika (4/11).