Restoran ini adalah salah satu restoran yang popularitasnya terjaga dari 1947. Penampakan luar yang semuanya serba hijau dan papan nama besar yang belum berubah sejak dulu bertuliskan “Restoran Trio”. Tempatnya pun tetap sama, dengan interior yang sama, dan 318 menu legendaris yang rasanya masih sama.

 Kursi-kursi kayu membangkitkan ingatan dengan bangku di sekolah dasar, taplak meja kotak-kotak warna merah dan putih.

 Pemilik restoran generasi ke-2, Effendi Sumartono (75) yang tetap berada di belakang kasir yang juga masih seperti keadaan terakhir saya makan di restoran ini, 10 tahun yang lalu. Hanya, wajah Effendi yang semakin berkeriput, itu yang berubah, sedikit. Tapi, semua begitu sama bagi saya. Mungkin inilah yang namanya restoran nostalgia. “Orang biasa datang ke sini untuk makan bersama keluarga, ya, sambil bernostalgia,” cerita Effendi sambil melihat bangku-bangku yang masih kosong karena baru membuka restorannya.

Effendi gemar bercerita pula tentang nostalgia, “Dulu, restoran ini warnanya biru lho! Orang Belanda bilang ini “Blauer Restoran” (restoran biru). Karena dulu belum ada pagar, Papa beli pagar tahun 50-an warnanya hijau, jadi sekalian saja diwarnai hijau semua. Ha ha ha,” jelasnya sembari bercanda. Nama “Trio” disarankan pula oleh orang Belanda yang sering makan di bekas bengkel becak ini. Karena pencetusnya adalah Tan Kim Poo (pemilih lahan), Tan Lung, dan Lam Khai Tjioe (ayah Effendi) 3 orang Canton. Maka itu, restoran ini menyajikan masakan Canton. Orang Belanda pula yang membuat gambar depan di depan buku sampai saat ini. 

Ada 300-an menu di dalam buku ini. Tapi kali ini saya pilih makanan kegemaran saya ya! 

(Searah jarum jam) Cumi Goreng Tepung, Burung Dara Goreng, Bihun Goreng Babi, Udang Wotiap dengan Ham, Gohiong, dan Camiaw Cah Polos. 

Cumi Goreng Tepungnya sangat renyah dan tidak berminyak. Rasanya lebih enak untuk dimakan sebagai menu pembuka tanpa nasi, karena sekejap saja bisa habis. Udang Wotiap dengan Ham yakni bakso udang yang dibuat sendiri, digoreng dengan tepung tipis dan ada sepotong bacon. Rasa manisnya udang masih terasa dan bercampur asinnya dari bacon. Kalau menu ini ya cocoknya pakai nasi ditambah dengan sayur Camiaw,

Burung Dara Goreng yang gurih dan Gohian yakni seperti kroket yang terbuat dari daging babi dan udang giling. Atau jika tidak pakai nasi, pakai Bihun Goreng Babi juga bisa jadi pendamping. Karena bihun gorengnya rasanya tidak berat, jadi cocok untuk jadi makanan pendamping.


Jika Anda ingin ke sini, perhatikan jam buka restoran ya. Karena berbeda dengan restoran lain. Menurut Effendi, Ayahnya memakai sistem Belanda zaman dulu. “Jam buka restoran ini ikuti jadwal Pasar Baru, kalau pasar jam 1 siang sampai jam 5 sore tutup, jadi kalau tutup ya restoran ini sepi. Tapi ini peraturan Belanda dulu,” ungkapnya. 

Restoran ini buka dari jam 10 pagi hingga 2 siang. Kemudian buka kembali dari jam 5 sore hingga 9.30 malam. Ajak keluarga atau teman Anda ke restoran ini. Karena kalau sendiri saja, porsinya cukup besar untuk dimakan sendiri. Lebih enak makan bersama-sama.

Restoran Trio
Jl. RP. Soeroso No. 29A, Gondangdia, Jakarta Pusat
Jam buka 10.00-14.00 dan 17.00-21:30
+6221-3193-6295

Peta

Harga:
Caimiaw Cah Polos Rp. 27.500
Gohiong Rp. 70.000
Bihun Goreng Babi Rp. 50.000
Cumi Goreng Tepung Rp. 75.000
Burung dara goreng Rp. 80.000
Udang Wotiap dengan Ham Rp. 145.000