“Kalau ke Jepang, Anda mau pergi ke mana?” Saya bertanya pada Putri Soesilo, seorang editor yang pergi bersama ke Jepang. Ia menjawab dengan cepat, “Ingin bertemu Doraemon!” Saya sedikit terkejut, “E-e-eh?” karena saya pikir orang Indonesia lebih suka ke tempat seperti Tokyo Sky-Tree, Tokyu-Hands, Tsukiji, Studio Ghibli, dan lain-lain.

P1570824_path_trim
Saya bingung di mana bisa bertemu dengan Doraemon dan mulai mencari-cari. Akhirnya, saya tahu ada Museum Fujiko F. Fujio di Kota Kawasaki. Menurut informasi yang saya dapat dari internet, di sana ada Pintu ke Mana Saja, bisa makan Roti Penghapal… Kalau bukan di museum ini, di mana lagi?

Dalam proposal untuk izin meliput, ada kolom “permintaan khusus”. Saya bertanya pada Putri, “Ada permintaan khusus?” dan Putri menjawab, “Mau main sama Doraemon!” Lalu, saya menuliskan permintaan itu. Apakah permintaan ini dapat dikabulkan? DSCF2857DSCF2877_trim

Ada satu lagi editor bernama Annisa Arianita. Ia biasa dipanggil Emon. Nama panggilan ini sama sekali tidak berkaitan dengan nama aslinya. Karena waktu kecil sangat menyukai Doraemon, ia mendapat nama panggilan ini. Meskipun sudah dewasa, ia masih suka Doraemon dan nama itu masih digunakan. Sayangnya, ia tidak ikut ke museum karena baru bergabung beberapa bulan setelahnya.

Mungkin bagi orang Jepang, Doraemon adalah kartun nostalgia waktu masih anak-anak. Namun, bagi orang Indonesia, Doraemon adalah karakter yang hidup.

Museum Fujiko F. Fujio diresmikan pada 3 September 2011, sesuai hari lahir Doraemon, 3 September 2112. Koleksi yang disukai banyak orang adalah Pintu ke Mana Saja serta lapangan tempat Doraemon bersama Nobita dan kawan-kawan bermain. Ada pula Kikori no Izumi (Air Mancur Giant), bisa juga berfoto bersama Doraemon dan Nobita yang sedang menunggangi dinosaurus. Namun, bagian yang paling berharga di museum ini, menurut staf PR di Museum Fujiko F. Fujio, adalah gambar asli buatan Fujiko F. Fujio. Sebab, rata-rata orang hanya melihat kartun di TV dan komik, belum pernah melihat gambar aslinya.

DSCF2802Gambar asli yang disimpan dalam museum ini berjumlah sekitar 50.000 lembar. Gambar asli dan kopian dipamerkan secara bergantian agar mencegah kerusakan pada gambar asli. Gambar asli disimpan di brankas besar dengan dinding yang tebal. Proteksinya pun terjamin aman. Bahkan, jika ada kebakaran, sistem untuk pemadaman api tidak menggunakan air, melainkan gas khusus yang tidak merusak kertas. Jika ingin memastikan gambar asli atau kopian, bisa melihat tanda berupa gambar Copy Robot (salah satu alat ajaib kreasi Fujiko) di ujung kanan bawah bingkai. Tinggi semua panel sedikit lebih rendah, disesuaikan dengan tinggi Doraemon (setinggi rata-rata anak kelas 4 SD waktu komik Doraemon pertama terbit).

Dulu, proses menggambar komik semua menggunakan tangan, bukan dengan sistem digital memakai komputer. Kalimat dialog sebelumnya ditulis tangan lalu diketik di komputer dan dicetak. Setelah itu, dipotong-potong dan ditempelkan di balon dialog setelah tulisan tangan dihapus. Apabila gambar dilihat dari jarak dekat, jejak hapusan dengan cat putih bisa dilihat secara jelas. Kalau dari komik saja, detail-detail ini tidak akan terlihat.

Kepala dan badan Doraemon diblok bukan menggunakan tone penuh, melainkan garis tipis yang dibuat dengan memakai penggaris oleh Fujiko F. sendiri. Melihatnya terus menerus tidak membosankan.

Ada juga video hologram menarik yang menampilkan Doraemon dan Nobita menerangkan bagaimana cara menggambar komik, dimulai dari membuat draf, membagi cerita, menegaskan gambar dengan tinta, sampai adegan terakhir, yaitu Nobita menumpahkan tinta dan dimarahi Doraemon!DSCF2745_combine_2752
Ada pula meja kerja yang dibawa langsung dari rumah Fujiko F. di Ikuta, Kawasaki. Di atasnya ada barisan boneka kecil dinosaurus (yang sering muncul dalam komik Doraemon), tumpukan buku dan majalah tentang ilmu pengetahuan alam. Apabila mendongak, Anda akan melihat rak buku yang tinggi di empat sisi tembok.

Fujiko F. memiliki prinsip, “Walaupun ditujukan bagi anak-anak, komik tidak boleh berbohong.” Ia selalu melakukan riset terlebih dulu. Misalnya, apabila membuat cerita dengan mesin waktu ke zaman dahulu, ia mencari informasi dari buku gambar tentang flora dan fauna pada zaman tersebut. Lalu, ia meminta pegawainya menggambar flora dan fauna tersebut ke dalam komik.

Anda juga bisa menonton film pendek orisinal berdurasi 15 menit di teater. Putri terbahak-bahak saat menonton meski tidak mengerti dialognya. Ia berkata, “Filmnya lucu banget! Saya tidak tahu bahasanya, tetapi melihat gesturnya saja saya sudah mengerti.” Ia juga berfoto bersama Doraemon dengan antusias, membeli Gacha-pong (telur plastik berisi mainan) yang hanya bisa didapat di museum, dan membeli pin semua tokoh Doraemon di toko cenderamata museum.

Keceriaan begitu terasa di museum. Karya-karya Fujiko F. sudah mendunia. Banyak orang mencintai karya-karyanya.

Ada jadwal tertentu untuk memasuki museum ini. Dalam sehari, hanya ada empat jadwal dengan batasan jumlah pengunjung. Namun, setelah masuk, pengunjung boleh berlama-lama sampai puas. Koleksi komik di sini juga lengkap. Ada seseorang yang membaca komik di samping patung Doraemon yang sedang membaca komik sambil makan Dorayaki. Keadaan ini bisa membuat lupa waktu.

DSCF2831
Di dalam cerita Doraemon, ada banyak kisah tentang perjalanan menembus waktu. Doraemon sendiri adalah robot kucing yang datang dari masa depan. Ia melakukan perjalanan menembus waktu dengan mudah sekali. Dibanding cerita lain tentang melintasi waktu, Doraemon tidak memakai mesin yang besar. Mesin waktu miliknya ada di dalam laci meja. Doraemon juga punya TV Waktu untuk melihat suasana masa lalu dan masa depan.

Perjalanan melintasi waktu Doraemon bukan hanya ada di dalam cerita. Fujiko F. bilang, “Saya ingin sekali saja, di dalam hidup saya, membuat cerita yang bisa menjadi kenangan di dalam hati anak-anak selamanya.” Boleh dibilang, harapannya sudah menjadi kenyataan.

DSCF2783

Meja kerja Fujiko F. yang asli

Doraemon dan Fujiko F. akan selalu ada selamanya mengarungi waktu. Andai saja bisa menembus waktu dengan mesin waktu, kami ingin pergi ke zaman ketika Fujiko F. sedang menulis komik Doraemon. Kami akan membawa majalah +62 ini dan menunjukkan kepadanya bahwa di Indonesia Doraemon masih dicintai oleh begitu banyak orang.

 

Panduan Bertemu Doraemon

Mereka Ingin Begini, Mereka Ingin Begitu…

Ah… Ini Dia Doraemon! Nurhasanah, Suara Doraemon Selamanya