RRI スタジオ内でのヌルさん。局内での呼び名は「ドラ」や「モン」

Nurhasanah di Studio RRI, Jakarta.

Sudah 23 tahun, Nurhasanah Budi (58) mengisi suara Doraemon yang ditayangkan di Indonesia. Suaranya begitu disukai. Ketika perannya digantikan, banyak orang kecewa. Akhirnya, Nurhasanah kembali mengisi suara Doraemon hingga sekarang. Tim +62 pun mendatangi Studio RRI, Jakarta, untuk menemuinya. Dari balik pintu, sosoknya yang kecil datang menyambut kami dengan ceria. Matanya yang berbinar-binar, tingkahnya yang lucu, dan bajunya yang berwarna biru membuat kami berpikir, “Doraemon sudah di depan mata!”

 

+62: Bagaimana cerita awal Ibu menjadi pengisi suara Doraemon?
Nurhasanah (N): Tadinya bukan aku yang pertama. Waktu itu International Media Marketing Group (IMMG, perusahaan pemegang lisensi Doraemon di Indonesia) belum ada studio, jadi harus sewa studio per malam. Nah, pengisi suara pertama ini selalu ada keperluan, seperti syuting. Jadi, rekaman lagi di hari berikutnya. Harus bayar lagi. Nah, karena jadinya merugi, dilakukanlah pencarian baru. Aku disuruh ikutan.
Dulu, pemeran Shizuka, Bu Praba—ia orang sini juga, RRI—bilang, “Nur, kamu pasti bisa, deh, suara Doraemon.” “Kok, kamu bilang aku bisa suara Doraemon?” Kubilang begitu, “Aku, ‘kan, belum pernah tonton.” “Aku yakin kamu bisa. Kamu, ‘kan, suka bercanda. Nah, coba tonton hari Minggu jam 8 pagi di RCTI.” Biasanya aku suka ke pasar. Namanya juga ibu-ibu. “Ya, sudah, aku besok tongkrongin, deh.” Aku lihat, oh, kayak gini. Besoknya, ketemu lagi sama Bu Praba. Ia bilang, “Sudah dengar? Kamu sudah lihat? Coba.” Aku, “Hai, Nobita (dengan suara Doraemon)!” “Sial, kamu bisa!” Dulu, ia diajak (alm.) Pak Olan Sitompul, produser. Nah, ia menyuruh Bu Praba, “Mbak, peran ini untuk Anda. Pasti ini nanti kartunnya terkenal.” Ia sudah coba suaranya, tetapi enggak bisa. “Enggak bisa. Aduh, sakit. Aku Shizuka saja.” Akhirnya, ia jadi Shizuka. Pak Hamdani, bos aku, jadi Suneo. Ada banyak dari RRI.

+62: Setelah itu, Ibu ikut audisi?
N: Waktu itu dites di lantai 7 Kantor RRI oleh Pak Olan. Lalu, dibawa ke studio yang di Pasar Baru, Sanggar Prathivi. Awalnya, rekaman di sana. Pak Olan dan istrinya bilang, “Nur, kok, kamu ngomong ‘Hai, baling-baling bambu!’ kayak manggil tukang sayur?” Ha-ha-ha. “Ya, sudah, kalau begitu, pakai musik, deh,” saya bilang. Akhirnya disetujui oleh pihak dari Jepang.

+62: Waktu baru-baru rekam bagaimana?
N: Awalnya, sistemnya ngumpul. Setelah itu, bergantian bicara, bergantung dari naskah. Langsung direkam. Kami mulai rekam setelah magrib. Pak Olan baru datang jam 10 malam lalu dengar hasil rekaman. Sudah setengah naskah, Pak Olan bilang, “Wih, kurang tinggi. Tinggiin lagi suaranya!” Jam 3 pagi baru selesai. Itu pas baru-baru. Sekarang, kami rekam bergantian lalu di-mixing oleh operator. Kami rekaman di studio baru IMMG, Kemang. Misalnya aku pulang dari kantor jam 3 sore, sampai sana jam 4, selesai jam 7 malam. Sekarang, kami sudah buat stok setahun. Belum ada lagi film datang dari Jepang. Nanti kalau ada film datang, baru rekam lagi.

+62: Sebelum menjadi Doraemon, Ibu sudah pernah jadi dubber?
N: Aku juga mengisi telenovela dan film India. Waktu zaman dulu ada Ramayana dan Mahabharata versi lama. Ada Cinta Paulina. Aku jadi Lalita yang genit. Dulu, dalam sehari bisa sampai lima film. Aku sampai rumah bisa jam 12 malam, enggak pernah pulang sore. Sampai pernah aku ketemu tetangga siang-siang. Ia bilang, “Bu, enggak takut sama matahari?”

+62: Berarti, sebelumya Ibu jadi wanita dewasa terus, ya? Lalu, inspirasi suara Doraemon dari mana?
N: Iya, jadi ibu-ibu. Suara Doraemon dari Jepang seperti itu. Enggak persis banget, tetapi, ya, seperti itu.

+62: Banyak yang tidak menyangka, dong, kalau Ibu pengisi suara Doraemon?
N:
Ada kejadian lucu pas acara di Pekanbaru. Pembawa acara panggil saya, “Ini pengisi suara Doraemon. Sini, dong, Doraemon!” Aku jalan sambil ngomong. Lalu, semua orang bilang, “Hah, ibu-ibu? Kirain laki-laki!”

+62: Kartun aslinya, ‘kan, pakai bahasa Jepang. Kalau dalam bahasa Indonesia, harus bicara lebih cepat?
N: Ada yang cepat, ada yang enggak. Aku sambil dengar bahasa Jepang-nya. Kalau dialog di naskah panjang tetapi Doraemon-nya sudah diam, aku harus ulang lagi, aku potong. Kepanjangan, nih, kata-katanya. Kalau Doraemon-nya masih ngomong-ngomong, dialognya pendek, aku tambah.

+62: Yang paling susah?
N: Yang paling susah itu kalau Doraemon teriak-teriak, misalnya lagi dikejar-kejar atau berantem sama Nobita, lagi dikitik-kitik, atau takut sama tikus. “Aduh, ada tikus! Aduh…aduh…aduh (suara Doraemon).”

+62: Ibu sudah 23 tahun mengisi suara Doraemon. Dari dulu sampai sekarang suara masih begitu, ya.
N: Memang dari awal kita harus ikut arahan seperti itu, enggak boleh berubah. Orang Indonesia juga senang suara Doraemon seperti itu. Pernah diganti suaranya, agak kecil. Pernah ada mahasiswa berkunjung, dikasih tahu oleh teman, “Nih, pengisi Doraemon,” “Iya, Bu? Kok, sekarang beda?” kata mereka, “Bagaimana caranya biar Ibu balik lagi?” “Ya, orang, ‘kan, mau versi baru mungkin, jadi diganti,” aku bilang. “Tapi, saya jadi enggak suka, Bu. Suaranya beda.”

+62: Ya, memang banyak yang kurang suka. Lalu, bagaimana Ibu bisa kembali lagi?
N: Enggak lama, aku dipanggil IMMG. “Bu, mau ikut keliling Indonesia?” “Waduh, ngapain, ya? Kok, aku yang dipanggil? ‘Kan, ada yang baru. Enggak enak, dong.” “Enggak, aku mau ajak Ibu. Nanti juga lama-lama kembali, Bu. Ikut, yuk.” Selama tiga bulan, keliling Indonesia untuk roadshow dari mal ke mal. Misalnya ke Medan, Balikpapan, Surabaya, Bandung, dan Bogor. Seminggu sekali terbang. Mungkin sudah diatur, ya. Aku jadi Doraemon lagi, sampai sekarang.

+62: Pernah sakit tenggorokan, Bu?
N: Pas rekam Raja Matahari, kisah Doraemon Petualangan, pernah suara hilang. Mungkin karena aku capek menunggu. Aku dijanjikan datang jam 9 pagi. Di studio musik soalnya. Tapi, take-nya jam setengah 4. Akhirnya, geser sini-sana. Enggak sesuai musik sama dubbing. Jam 11, aku sudah gemetar. “Sudah, enggak usah diteruskan,” kubilang, “Percuma. Capek-capekin saja. Besok lagi saja.”

+62: Adegan paling disukai?
N: Kalau lagi mesra sama Mii-chan. Ya, semuanya pokoknya kita nikmati pasti suka. Suka semuanya, lah, harus suka.

+62: Ibu lebih menikmati jadi dubber Doraemon daripada karakter lain?
N: Iya. Doraemon itu dari anak kecil, dewasa, sampai orang tua senang. Karena film ini juga udah lama, setiap aku ngomong, pasti ada yang komentar, “Ih, ada Doraemon!” Pernah ada acara 100 Doraemon di Ancol, aku datang. Begitu aku sampai, mungkin ada yang tahu. “Ih, Ibu yang ngisi Doraemon, ya?” “Kenapa (suara Doraemon)?” “Foto dulu, Bu!” Jadi, begitu masuk, orang pada foto. Anak-anak muda, mahasiswa, ibu-ibu, bapak-bapak juga sama anaknya. Kayak artis saja. Sampai pulang!

+62: Iyalah, Doraemon karakter yang selalu berdampingan dengan masa kanak- kanak.
N: Makanya, sekarang orang yang sudah menikah, sudah punya anak, masih senang. Yang mengisi suara Nobita, pas belum mengisi Nobita, juga bilang, “Ih, pengen, deh, ketemu Doraemon.”

+62: Jadi, Ibu sudah lama menjadi Doraemon di Indonesia. Rasanya bagaimana?
N: Rasanya, senang. Pokoknya, happy, lah.

+62: Setelah dubbing, Ibu jadi nge-fans sama Doraemon?
N: Ya, otomatis.

+62: Ibu sudah pernah ke Jepang?
N: Belum.

+62: Belum ke museum, ya, berarti? Ada museum Doraemon di Kawasaki. Mau ke sana, Bu?
N: Mau banget.

 

『+62』取材チームとヌルさん

“Kami sayang sekali Doraemon.” Nurhasanah bersama Tim +62.

Di tengah wawancara dengan Ibu Nurhasanah, Putri, Editor +62, tidak mau melewatkan kesempatan berbicara dengan Doraemon yang diimpi-impikan! Inilah percakapan mereka.

N: Putri, kamu lihat Nobita, enggak?
P: Nobita mana, ya? Itu, Doraemon, aduh…
N: Ke mana?
P: Dipukul Giant!
N: Apa? Dipukul Giant? Awas, ya, Giant, ya!
P: Doraemon!
N: Apa?
P: Aku mau Lebaran.
N: Terus?
P: Tapi, kok, macet banget, ya, jalanannya?
N: Terus kamu pasti mau minta sesuatu.
P: Ih, tahu saja, Doraemon. Aku mau ke Bali, Doraemon, tapi enggak punya uang.
N: Ya, sudah. Pergi saja…berenang!
P: Kok berenang? Pinjam pintu boleh?
N: Oh, jadi mau pakai pintu punya aku? Ya sudah, nih. Pintu ke Mana Saja!
P: Horeeee!

 

Mau main sama Doraemon! di Museum Fujiko F. Fujio

Panduan Bertemu Doraemon

Mereka Ingin Begini, Mereka Ingin Begitu…