dscf7583


Shirota Michiyoshi
Videografer yang akrab dipanggil Michy ini sempat tinggal di Jakarta sejak kelas 2 SD hingga 2 SMP. Saat kuliah, ia mengawali ketertarikannya pada video dan internet lalu mulai memproduksi video. Setelah bekerja di USEN dan Yahoo! Japan, ia menjadi freelancer sejak 2012. Saat ini usianya 37 tahun. Website: http://onihachi.strikingly.com.

Penampilannya kasual. Rambutnya panjang dan senyumnya ramah, juga terlihat seperti sedikit mengantuk. Biasanya, seseorang yang membawa kamera video dan mikrofon akan membuat orang tegang atau waswas. Namun, keberadaan Shirota Michiyoshi (Michy) dengan kameranya tidak membuat orang bersikap demikian. Hebat, bukan?

Saat acara Ennichisai digelar pada Mei lalu di Blok M, entah mengapa selalu saja ada jalan di depannya. Berhenti sesaat, ia mengambil gambar dengan kamera video, lalu berjalan, berhenti, dan mengambil gambar lagi. Michy berjalan seperti aliran air melewati kerumunan orang.

Setahun yang lalu, ia mulai bekerja di Jakarta dengan Ennichisai. Kemudian Momiji-Matsuri dan Sakura-Matsuri di Cikarang, dan Ennichisai tahun ini. Di setiap acara, ia selalu datang dari Jepang sebagai pekerja sukarela untuk mengambil video.

Michy adalah anak kedua dari Shirota Minoru yang pernah menjadi Konsulat Jenderal Jepang di Medan, Jakarta, dan Denpasar. Dari 1986 sampai 1993, ia tinggal di Jakarta selama 7 tahun dan bersekolah di Jakarta Japanese School dari kelas 2 SD hingga 2 SMP. Setelah kembali ke Jepang, ia tidak pernah berkeinginan untuk bekerja di Indonesia. Ia juga belum sempat untuk kembali mengunjungi Indonesia, sampai akhirnya mendapat tugas kerja di Yogyakarta pada 2014. Kunjungannya kali ini membuat ia merasa otaknya seperti digerus.

Saat mendengar suara azan ketika berada di hotel di Yogyakarta, ia merasa kenangan lamanya bangkit kembali. “Rasanya otak mau copot. Sehabis hujan deras sore hari, bau hujan masih terasa, penjual kaki lima bermunculan dan orang-orang mulai berkumpul. Kemudian, datanglah ‘malam yang nyata’. Seperti masa kecil, waktu yang berjalan seharusnya seperti ini. Perasaan seperti ini telah terlupakan sejak lama. Selama hidup di Jepang, rasanya ada yang kurang. Mungkin diri sendiri yang tinggal di Jepang adalah bayangan dan menunggu ‘malam yang nyata yang tidak akan pernah datang’.”

Sejak saat itu, ia ingin bekerja di Indonesia dan selalu memikirkan alasan untuk datang ke Indonesia. Akhirnya, ia mendapat ide, “Menerima pekerjaan sukarela untuk datang ke Indonesia. Jika ada yang menanggung biaya perjalanan dan biaya akomodasi, biaya produksi video menjadi gratis. Tidak apa-apa tidak mendapat keuntungan, karena saya ada pekerjaan juga di Jepang. Yang penting, ini bisa menjadi alasan saya mengunjungi Indonesia, asalkan masih bisa hidup,” ucapnya. Ia terus melanjutkan bekerja sukarela di Indonesia sampai saat ini.

Di Jepang, masih banyak orang yang tidak mengenal Indonesia, sementara orang-orang Indonesia begitu banyak tahu tentang Jepang. Hubungannya tidak berimbang. Maka, ia mengambil banyak video tentang Indonesia dan menyiarkannya melalui internet. “Dari video ini, orang akan tahu betapa bagusnya Indonesia. Saya ingin membuat orang pelan-pelan lebih mengenal Indonesia,” ujarnya.

dscf7535

Ia merasa hidup di Jepang sangat sulit. Itulah alasan sampai ia ingin mendekatkan Jepang dan Indonesia. “Persaingan untuk menjadi yang terbaik membuat orang Jepang terlalu keras pada diri sendiri. Sebelum orang lain berkata, orang Jepang sudah tahu apa tanggung jawabnya. ‘Harus selesaikan ini, itu.’ Ada banyak orang yang bunuh diri di Jepang. Mulai anak SMP, SMA, sampai orang tua.

Saya ingin meringankan beban berat itu. Di Indonesia juga ada banyak masalah. Namun, bedanya adalah orang-orang lebih santai menghadapinya. Saat ada kemacetan di jalan, misalnya, mereka berebut, tetapi bisa berkompromi. 15 menit terlambat tidak apa-apa, yang penting tugas selesai dikerjakan. Saya berpikir, apakah ada situasi di tengah-tengah Jepang dan Indonesia? Kalau saja Jepang menjadi seperti Indonesia, ini bisa menyelamatkan nyawa!” ujarnya.

“Kalau begini terus, orang Jepang tidak akan pernah bersyukur. Mundur sedikit tidak apa-apa. Hidup sewajarnya saja. Kalau bisa makan, perlu apa lagi?”