dscf1121_mixSaya masih ingat betul lagu yang diperdengarkan oleh paman saya ketika saya berumur 3 tahun. Lagu itu adalah “I Just Called to Say I Love You” dari Stevie Wonder dan “Careless Whisper” dari George Michael. Sejak saat itu, saya mendengarkan musik dari pemutar kaset milik kakak perempuan saya yang sangat menyukai musik. Kadang-kadang saya mendengarkan lagu dari Indonesia, kadang-kadang lagu dari negara-negara lain.

Ayah saya yang memiliki toko obat di Palembang pernah berkata pada saya, “Lakukan apa yang kamu ingin lakukan. Sukses hanya akan datang ketika kamu melakukan sesuatu dari kesungguhan hati dan menikmatinya, bukan ketika kamu melakukan pekerjaan karena kamu harus melakukannya.” Saya pikir, ayah ingin saya melanjutkan bisnis miliknya, tetapi ia malah berkata demikian. Perkataannya selalu menjadi ‘kompas’ bagi saya, menunjukkan jalan yang harus saya lalui.

Saat saya magang di studio rekaman di Seattle, Amerika Serikat, pemilik studio menyarankan saya, “Jika benar-benar ingin melanjutkan pekerjaan ini, kamu harus pergi ke Los Angeles.” Setelah lulus kuliah, saya menyetir selama 22 jam untuk pergi ke sana. Di sana, saya mendapat kesempatan untuk berlatih di studio ternama, seperti West Lake yang terkenal karena menjadi tempat Michael Jackson merekam albumnya. Saya juga pernah magang di pembuat mic. Malam hari, saya bekerja sebagai teknisi suara di kelab jazz, tempat banyak nama besar bermain di sana. Bagi saya, ini menjadi pelatihan yang sangat baik.

Pemilik kelab jazz menawari saya pekerjaan untuk 3 tahun lagi, tetapi saya memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Tentu saja saya masih punya kecintaan dengan pusat industri musik dunia, Los Angeles. Keinginan saya untuk menerapkan teknik yang saya dapatkan di sana untuk diaplikasikan di Indonesia semakin kuat.

Saya hanya bisa bekerja dengan seniman yang saya hargai. Ketika mereka bisa merasa puas dengan hasil pekerjaan bersama, saya merasa bahwa saya dapat menjadi jembatan antara musik dan cita-cita mereka. Ini adalah sisi sukacita terbesar dalam pekerjaan saya.

dscf1059Otamatone
Instrumen musik digital dari Jepang. Bentuknya lucu. Mudah mengeluarkan suara meski Anda harus berlatih mengeluarkan nada yang tepat. Karena suka alat ini, Moko memakainya sebagai logo studio musiknya.

Makanan Lokal
Kesenangan Moko dengan musik sama besar dengan makanan lokal di berbagai daerah. “Setiap makanan yang disukai orang lokal pasti punya alasan untuk dicintai, sejarah, dan cerita,” ujarnya. Di +62, ada rubrik “Nothing Beats!” tentang Moko yang merekomendasikan makanan lokal.

Harmoko Aguswan
Lahir di Palembang pada 1980. Akrab dipanggil Moko. Setelah menyelesaikan studi di Jurusan Manajemen di Seattle University, Amerika Serikat, ia pindah ke Los Angeles. Sambil berkuliah di UCLA, Los Angeles, ia bekerja di kelab jazz bernama Jazz Bakery. Dari situ, ia mendapatkan pengalaman dalam menata suara untuk live music untuk pemusik-pemusik yang telah memiliki nama besar. Pada 2003, ia kembali ke Indonesia dan membangun Brotherland, sebuah studio rekaman. Ia terlibat dalam publikasi CD para pemusik Indonesia dan menjadi teknisi suara di konser-konser dalam dan luar Indonesia. Ia juga sangat dipercaya oleh seniman-seniman luar negeri. Contohnya, di Java Jazz 2016, ia mengatur suara untuk siaran langsung internet pertunjukan Sting. Saat Boyz II Men mengadakan tur di Indonesia, ia menjadi kepala teknisi.

Portrait of Millennials Introduction