_dsf1081Tinggi badan saya mencapai 178 cm dan saya merasa tidak percaya diri karena itu. Saya tumbuh sebagai anak yang pemalu dan tidak pandai dalam berkomunikasi. Saat SMA, saya masuk sekolah khusus perempuan dan mengambil jurusan ilmu pengetahuan alam. Lulus SMA, ibu saya mendaftarkan saya ke sekolah modeling. Saat itu, saya tidak bermaksud untuk menjadi model, tetapi menjadikan kesempatan itu bagian dari melatih ekspresi diri saya. Sepupu saya yang seorang fotografer, Anton Ismael, selalu menyarankan saya untuk menjadi model. Saya pun mencoba untuk menjadi model dalam salah satu karyanya. Itu merupakan keputusan saya untuk mengucapkan selamat tinggal pada “Putri si Pemalu”. Setelah itu, tiba-tiba, saya menjadi model sampul sebuah majalah. Ha-ha-ha!

Saat kuliah, saya mengambil jurusan Teknik Arsitektur di Universitas Trisakti, Jakarta. Setelah lulus, saya melanjutkan studi untuk program master di Kingston University, London, Inggris, dan mengambil jurusan Historic Building Conservation (Konservasi Bangunan Bersejarah). Di sana, saya belajar sambil bekerja sebagai model. Saya menolak bantuan finansial dari orangtua. Jadi, saya bisa merasakan betapa beratnya mendapatkan uang untuk kehidupan sehari-hari.

Di Inggris banyak terdapat bangunan bersejarah yang dilestarikan dengan baik, sangat menarik. Saya bertanya-tanya, mengapa bangunan kuno dan bersejarah di Indonesia tidak dilestarikan seperti di Inggris. Saya mulai merasa bahwa ini adalah tugas saya selanjutnya untuk Indonesia.

Mengapa saya sangat mencintai hal tentang tradisi dan budaya? Ayah saya berasal dari Yogyakarta. Sejak kecil, saya sudah diajari untuk menghormati dan menghargai tradisi dan kebudayaan. Di samping itu, ia sangat menyukai musik dan membuat bisnis gitar batik yang diberi nama G&B, dibuat di Yogyakarta sejak saya masih kecil. Saya sering menemani ayah untuk mengunjungi tempat pembuatannya dan bertemu para perajin yang masih menjunjung nilai tradisional.

Ayah juga yang mendesain rumah ini. Saya besar di sini. Di sini, ada 18 kamar di lantai 2 dan 3 yang disewakan sebagai kos-kosan. Saat ini kami sedang merenovasi rumah ini untuk menjadi tempat yang nyaman untuk berkumpul dan menggabungkan tradisi lama dan konsep baru.

Wisatawan mancanegara datang ke Indonesia untuk melihat dan merasakan pengalaman yang tidak mereka dapatkan di negara lain. Meskipun banyak bangunan tua yang bisa menjadi nilai pariwisata, banyak yang tidak terawat. Saya pikir, baik pemerintah maupun industri pariwisata tidak sadar akan keadaan ini. Saya belum bisa mengubah sistem itu di tahap awal. Jadi, saya ingin merealisasikan konsep saya mulai dari rumah ini. Setelah itu, barulah saya ingin melangkah ke tingkat selanjutnya. Di saat yang sama, saya merasa itu adalah tugas saya sebagai dosen untuk mengajari murid-murid di almamater saya, Universitas Trisakti, mengenai pentingnya menemukan kembali nilai-nilai tradisi kita.

Kita tidak akan ada jika tidak punya akar dan tradisi. Saya melangkah maju ke masa lalu. Kelihatannya seperti berjalan mundur meskipun, kenyataannya, itu adalah masa depan kita.

 

surface-asia-0 img_3182aa unnamed-7

 

 

 

Putri telah menjadi model sampul majalah EEW, Surface Asia, Two Tone, L’Officiel Indonesia, dan lain-lain. Ekspresi Putri terlihat tajam dan misterius setelah dirias.

 

Putri Sulistyowati
Lahir pada 1991 di Jakarta. Sambil berkuliah di Jurusan Arsitektur di Universitas Trisakti, Jakarta, ia memulai karier sebagai model dan menjadi model sampul untuk banyak majalah. Ia telah menyelesaikan pendidikan di Kingston University di Inggris untuk mempelajari pelestarian bangunan bersejarah. Di waktu yang sama, ia membuat debut di London Fashion Week 2015 setelah mendapat tawaran dari agensi model terkenal, FM London. Ia mulai mengajar sebagai dosen pelestarian bangunan bersejarah di Universitas Trisakti. Ia juga membantu G&B, bisnis gitar milik ayahnya yang juga adalah seorang arsitek.

Portrait of Millennials Introduction