dscf2380 Saya mulai menggunakan internet pada 2010 untuk membuka akun surat elektronik dan Facebook. Saya menggunakan Facebook karena memudahkan saya untuk berkomunikasi dengan orang luar yang pernah berkunjung ke desa saya. Saya juga punya sekitar 10 teman orang asing asal Australia, Jepang, Belanda, Afganistan, dan lain sebagainya.

Saya mulai menggunakan Instagram sekitar setahun yang lalu. Saya menggunakannya sebagai alat untuk mengirimkan informasi tentang kehidupan dan budaya Baduy ke dunia di luar Baduy. Instagram dipenuhi foto yang ‘mewah’. Namun, foto saya ‘sederhana’ saja. Bagus, ‘kan?

Contohnya, saya mengunggah foto ayam milik saya. Mengapa ayam? Itu karena di Baduy wajib untuk memelihara ayam. Di samping itu, saya mengunggah foto tentang orang dan kehidupan di desa saya. Misalnya, proses membuat gula aren dan menenun kain. Di dalam desa, sinyal telepon genggam sangat lemah. Namun, jika naik ke bukit, saya bisa menangkap sinyal dan mengunggah foto.

Penggunaan internet dilarang dalam peraturan Baduy. Menurut saya, internet memiliki aspek positif dan negatif. Namun, kini dunia berubah, tak peduli kita suka atau tidak. Jadi, jika tidak berubah, kita akan tertinggal jauh di belakang.

Menyenangkan ketika bisa melihat dunia di luar Baduy dengan follow teman-teman di Facebook dan Instagram. Meskipun saya jadi mengetahui banyak tentang dunia luar, rasa cinta kepada kebudayaan Baduy semakin besar. Tinggal di kota selama satu atau dua minggu itu menyenangkan. Namun, bosan juga jika tinggal lebih lama lagi. Di kota, tidak ada siang dan malam. Semua orang kota bekerja tanpa kenal waktu. Saya rasa, hidup di Baduy lebih baik. Pagi hingga siang hari bekerja di ladang dan malam hari waktunya beristirahat.

Sampai sekarang, saya belum pernah pergi ke luar Jawa Barat, selain Jakarta. Namun, ada negara yang saya ingin kunjungi, yaitu Inggris. Saya ingin pergi ke Inggris karena bahasa Inggris menjadi bahasa internasional.

 

mul-a2 mul-a mul-c mul-d mul-e mul-f

 
Instagram (@mulyono_nasinah)
Mul sering mengunggah foto-foto kegiatan desa, misalnya anak yang sedang membawa banyak pisang, orang yang membawa ayam dan perempuan yang sedang menenun. Instagram juga dijadikannya media untuk menjual produk-produk Baduy.

Mulyono
Lahir di Banten, Jawa Barat, pada 1994. Ia tinggal di Baduy Luar, wilayah Baduy yang peraturannya tidak seketat Baduy Dalam. Ayahnya bernama Sarpin, perwakilan Baduy di pemerintahan. Ia menamatkan pendidikan setara dengan SMA di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) karena peraturan Baduy melarang untuk mendapatkan pendidikan di sekolah.

Portrait of Millennials Introduction