BAHAN
Hijiki no Nimono
hijiki yang kering 50 g
minyak salad 2 sendok makan
jahe 1 ruas
bahan-bahan sesuai selera, misalnya wortel, kacang buncis, seledri, jamur shitake kering, hotate (scallop), tofu kering, satsumage (seperti perkedel yang terbuat dari ikan), dll
dashi (kaldu dari ikan cakalang kering) 400 cc
sake 5 sendok makan
gula 4 sendok makan
shoyu (kecap asin Jepang) 5 sendok makan
garam secukupnya
sansho (biji lada Jepang, rasanya kuat) sedikit

Pir Merah
pir besar 5 buah
red wine 2 cangkir
gula 4 sendok makan
madu 2 sendok makan
jeruk nipis 2 buah
fullsizerender

CARA MEMASAK
Hijiki no Nimono adalah hidangan rumput laut berwarna cokelat yang direbus. Biasanya, hidangan ini tidak ditambah dengan banyak bahan. Namun, jika dengan bahan yang banyak, bisa menjadi hidangan utama yang bernutrisi tinggi.

Hijiki kering dimasukkan ke dalam air dan didiamkan selama 10 sampai 15 menit lalu angkat. Rasanya kurang lezat jika terlalu lama direndam. Setelah itu, cuci sampai bersih.

Masukkan minyak salad ke dalam panci lalu tumis irisan jahe. Sampai jahe berbau harum, masukkan semua bahan, lanjutkan menumisnya. Setelah semua bahan terkena minyak, masukkan kaldu dan bumbu sekaligus. Kemudian, tutup dan rebus hingga sekitar 15 menit. Masakan siap disajikan.

Tidak boleh direbus lama. Waktu merebus, perhatikan kesegaran warna merah wortel dan hijaunya buncis. Jika Anda bisa mendapatkan biji lada Jepang, masukkan sedikit untuk menambah cita rasanya.

dscf5505
Setelah menyantap Hijiki no Nimono, bagaimana jika membuat makanan penutup dengan bahan buah pir?

Kupas dan buang biji buah pir. Lalu potong buahnya menjadi 4 bagian. Siapkan panci, masukkan red wine, gula, madu, dan perasan jeruk nipis. Rebus sampai mendidih. Lalu, masukkan buah pir dan masak dengan api sedang selama 5-6 menit. Tidak boleh terlalu lama. Makan selagi panas, rasanya enak. Didinginkan dalam kulkas, juga enak. Boleh juga makan dengan ditambahkan yoghurt.

Sudah sempurna! Sudah siap! Ayo, semuanya makan bersama!

 
 

umemura_p1110685Umemura Akiyo
Lahir pada 1942 di Yamaguchi, Jepang. Tinggal di Indonesia sudah lebih dari 30 tahun. Saat ini tinggal di Depok, Jawa Barat. Selain memasak, ia juga pandai menulis shodo (kaligrafi bahasa Jepang).