Siapa tidak kenal ikebana, seni merangkai bunga yang merupakan budaya Jepang? Di Indonesia, ikebana ditekuni oleh sekelompok orang yang tergabung dalam Ikebana International Chapter 224. Ikebana International sendiri adalah organisasi nonprofit internasional yang sudah terbentuk sejak 1956. Organisasi ini sudah merangkul banyak negara. Sejak 4 April 1984, Ikebana International merangkul Indonesia sebagai cabang ke-224 di bawah Kedutaan Besar Jepang dan Japan Foundation.

Rabu, 23 November 2016, Capitol Park Residence, apartemen bintang lima yang berlokasi di Salemba, Jakarta Pusat, berkolaborasi dengan Ikebana International Chapter 224, mengadakan Ikebana Workshop. Acara yang tidak memungut biaya apa pun dalam pendaftarannya ini diikuti oleh 15 orang yang adalah penghuni Capitol Park Residence.

Pukul 10:30, acara dimulai. Lily Hilman Sutanto, salah seorang pengajar di Ikebana International Chapter 224, memperkenalkan bahan-bahan yang sudah tersedia di setiap meja peserta. Ada bunga-bunga dan dedaunan. Bunga-bunganya adalah mawar, anthurium, dan baby easter. Sedangkan, daun-daunnya adalah daun anggur laut, daun palem, dan daun ruscus. Ikebana seperti apa yang akan dibuat?
dscf1944
Lily sendiri mendalami aliran ikebana yang tertua, yaitu ikenobo. Dalam ikenobo, dikenal tiga jenis gaya rangkaian, yakni rikka, shoka, dan jiyuka. Kali ini, ia memilih gaya jiyuka (gaya bebas) yang lebih mudah dipahami oleh pemula.
Lily yang telah mendalami ikebana selama 16 tahun melakukan demonstrasi membuat ikebana sembil memberi penjelasan. Menurutnya, dalam merangkai bunga perlu memperhatikan keseimbangan, dimensi, ritme, warna, dan lain-lain. Idealnya, merangkai bunga dilakukan sambil duduk karena ikebana bukanlah rangkaian centerpiece, melainkan hanya dilihat dari satu sisi. Maka, penting sekali memutuskan sisi sebelah mana yang akan dijadikan bagian depan. Tentu semua terserah perangkai, tidak ada yang salah dalam berkesenian. Semuanya tentang bagaimana perangkai mengungkapkan ide dan ekspresi melalui rangkaian bunga.

Setelah menentukan arah wadah, Lily mengarahkan peserta untuk memilih bunga mana saja yang akan digunakan. “Kira-kira, bunga manakah yang paling menarik, paling berkesan, paling mau ‘berkomunikasi’ dengan saya?” Lalu, Lily juga mengajari peserta bagaimana cara menggunting tangkai bunga dengan benar, yaitu secara miring di antara tangkai-tangkai daun agar sisanya masih bisa digunakan.

“Bunga juga punya karakter masing-masing. Melalui ikebana, kita akan belajar bagaimana melihat alam. Bukan berarti bunga yang layu tidak bisa dipakai. Apabila bunga layu diletakkan menghadap ke atas, kesannya akan lebih segar,” pesan Lily sambil memilah dan memasang bunga-bunga di wadah di hadapannya.
dscf1953
Sembari Lily lanjut berkreasi, Frida A. Prawiradjaja, Vice President of Ikebana International Chapter 224, membagi pengetahuannya mengenai ikenobo. Ikenobo adalah aliran tertua, sudah dikenal selama 550 tahun, sedangkan di Indonesia baru mencapai 32 tahun melalui Chapter 224 ini.

Di Jepang sudah dikenal banyak macam aliran ikebana. Di Indonesia, baru dikenal tujuh aliran, yaitu ikenobo, sogetsu, ichiyo, ohara, misho-ryu, koryu, dan shofukadokai. Aliran-aliran ini memiliki umur yang berbeda-beda. Misalnya, ohara sekitar 400 tahun, sogetsu sekitar 90 tahun, dan shofukadokai sekitar 30 tahun. Semakin muda, semakin modern. Namun, aliran klasik seperti ikenobo tidak hilang. Jadi, sebebas-bebasnya jiyuka sesuai dengan imajinasi perangkai, tetap ada pakem-pakem yang tak bisa diubah.

Jadi sudah rangkaian bunga yang dibuat Lily. Kali ini, giliran peserta berekspresi melalui bunga dan daun yang dirangkai. Ternyata, tidak hanya wanita yang berminat belajar merangkai bunga. Ada juga peserta laki-laki yang tak kalah bersemangat.

“Kami tidak menutup kemungkinan bagi laki-laki belajar merangkai bunga. Di Jepang, mulai dari anak TK sampai orang tua, tidak peduli profesi dan jenis kelamin, semua belajar merangkai bunga untuk mengekspresikan diri,” ujar Lily.

Peserta pun mulai merangkai. Lily dan Frida berkeliling untuk membantu peserta yang masih kebingungan. Mereka juga berkali-kali mengingatkan untuk menjaga kebersihan. Setiap meja peserta telah dipasangi kantong untuk membuang serpihan-serpihan dan potongan-potongan yang tak terpakai. Sebelum dan sesudah merangkai, keadaan harus rapi.

15 menit berlalu. Seorang peserta bernama Della berantusias menunjukkan hasil karyanya. Ia terinspirasi dari bentuk seekor ayam. Peserta lain, bernama Joline, ternyata telah berkecimpung dalam dunia merangkai bunga meski cenderung mendalami gaya Eropa. Ia pun berkreasi memadukan gaya Jepang dengan Eropa dan berani bermain dengan bentuk.

dscf1970Seluruh peserta tampak gembira merangkai dan puas dengan karya masing-masing. Mereka membawa pulang rangkaian bunga mereka dengan bangga. Tampaknya mereka tak sabar menghias unit mereka dengan rangkaian ekspresi mereka.

Ke depannya, Capitol Park Residence akan terus menggelar acara workshop sejenis untuk menjalin keakraban di antara penghuninya. Meskipun demikian, selain penghuni juga bisa mengikuti acara-acara ini. Untuk mengetahui informasi mengenai acara-acara Capitol Park Residence, bisa menghubungi +62(0)21-3928-777.

Capitol Park Residence
Jl. Salemba Raya No.16, Senen, Jakarta Pusat 10430
Tel: +62(0)21-3928-777, +62(0)812-8288-2629