+62: Bagaimana menurut Anda kebudayaan klasik Jepang seperti karuta?
Nomura: Meskipun kami adalah orang Jepang, bukan berarti kami selalu tahu tentang kebudayaan Jepang. Saya justru jadi tahu kebudayaan Jepang melalui film ini.

+62: Apa yang ada di pikiran Anda tentang Hyakunin Isshu (antologi 100 puisi yang berasal dari abad ke-13 di Jepang) sebelum proses shooting film ini dimulai?
N: Saya selalu gagal dalam ujian pelajaran sastra Jepang klasik. Dulu saya tidak mau menghafal Hyakunin Isshu dan kesal dengan orang yang telah membuatnya. Sekarang, saya bertemu lagi dengan Hyakunin Isshu! Namun, saya telah mendalami Hyakunin Isshu. Ternyata ada makna di setiap puisi. Saya menikmatinya.

+62: Di antara 100 puisi dalam Hyakunin Isshu, puisi mana yang paling Anda sukai?
N: Puisi “Tagonoura” (dari Tagonoura bisa melihat puncak Gunung Fuji yang tinggi dan putih saat bersalju) begitu indah. Di dalam film, Taichi dan Kana berdeklamasi sambil melihat Gunung Fuji dari Tagonoura. Proses shooting sempat ditunda satu kali karena cuaca yang buruk.

+62: Karuta adalah kebudayaan Jepang dengan sisi tradisional yang kuat, bahkan sulit dipahami oleh orang asing.
N: Menurut saya, aspek yang kental dengan kebudayaan Jepang adalah para pemain tidak mengucapkan satu kata pun kala memainkannya. Di negara lain, ada permainan-permainan yang saat dimainkan para pemainnya mengobrol dan mengunyah permen karet.

+62: Serius sekali.
N: Ya, sangat serius. Ini menunjukkan karakter orang Jepang.

+62: Apakah Anda bersedia membintangi film Indonesia?
N: Ya, tentu saja.

+62: Film seperti apa yang Anda inginkan untuk tampil di dalamnya?
N: Seperti apa tren film Indonesia saat ini?

+62: Kami punya semua genre, dari film laga hingga komedi. Di antaranya, The Raid, film laga penuh aksi, terkenal hingga seantero dunia.
N: Saya akan suka sekali membintangi film laga. Saya merasa bahwa di Indonesia proses pengambilan gambar lebih mudah daripada di Jepang. Semalam, saya bersantap di sebuah restoran. Di dalamnya ada meja panjang sekali, seperti yang ada di film mafia. Saya membayangkan, seorang penembak datang dan seketika menjadikan tempat itu bersimbah darah. Saya ingin melakukannya. Saya juga berjalan-jalan di kota dan rasanya enak sekali. Melihat lanskap kota dan tempat-tempat berkelas…rasanya kami bisa membuat film yang hebat di Indonesia.