Masih di Pulau Sumatera, yuk, kita ke Sumatera Utara. Ketika berbicara mengenai kuliner dari Sumatera Utara, ada satu rempah yang tidak bisa ditinggalkan. Namanya andaliman. Buah sejenis lada ini berwarna hijau, rasanya pedas, dan menimbulkan sensasi hangat di mulut dan tenggorokan. Andaliman hampir menjadi bumbu utama yang menjadi bintang di masakan khas Sumatera Utara.

Penasaran, ‘kan? Di Toba Tabo ada menu bernama ayam gota yang jarang kita temui di Jakarta. Masakan ini juga menggunakan andaliman. Tidak sepopuler daging babi panggang atau saksang. Namun, nama gota membuat saya penasaran untuk bertemu.

Maka, ketika jemari tangan kiri saya menyusuri buku menu, jemari tangan kanan melambai untuk memanggil seorang staf. Pertanyaan polos pun muncul, “Gota itu, apa, sih?” ia menjawab, “Dalam bahasa Batak, gota artinya darah, Mbak.” Heeee…. Rupanya ekspresi terkejut saya sampai membuatnya terkejut pula. Dengan tenang, ia memberi tahu, “Tenang saja, Mbak. Darahnya jadi bumbu, kok, dimasak bersama ayam. Jadi, bukan darah yang dikentalkan.”

Lega, saya pun memutuskan untuk mencoba memesannya. Sambil menunggu, saya coba berkenalan dengan ayam gota melalui sang kepala juru masak. Untunglah, ia bersedia saya tanya-tanya. Jadi, seperti apa, sih, ayam gota itu? Bagaimana membuatnya?

Untuk membuat ayam gota, juru masak di sini menetapkan kriteria khusus, yakni menggunakan ayam kampung pejantan yang masih muda. Cara menentukan usia ayam juga unik. Kaki ayam tidak boleh yang sudah berkulit ari berwarna kuning dan tidak boleh retak-retak. Ayam yang dipilih juga harus belum tumbuh jenggernya.

Tidak selesai sampai di situ. Penampungan darah ayam juga harus diperhatikan. Pertama, siapkan air yang sudah dicampurkan dengan jeruk nipis. Lalu, ayam boleh dipotong dan ditampung darahnya kira-kira 150 mililiter dalam campuran tersebut. Larutan darah pun harus diaduk terus menerus agar tidak mengental.

Wah, repot sekali! Ya, itu semua demi menghasilkan sajian ayam gota yang autentik khas Toba. Menurut sang kepala juru masak, ayam kampung yang muda memiliki daging yang rasanya lebih manis dan lebih empuk dibandingkan ayam kampung yang sudah dewasa. Lalu, ayam dimasak dengan berbagai macam bumbu rempah, termasuk andaliman, dan darah ayam sebagai bahan terakhir ketika ayam sudah matang.

Ayam gota mendarat di hadapan. Warnanya cukup gelap. Namun, aromanya cukup menyengat. Sang kepala juru masak menyilakan saya mencicipinya. Saya sempat ragu-ragu karena membayangkan darah. Namun, ketika suwiran pertama tiba di lidah, bayangan menakutkan tadi rontok seketika.

Rasa yang dihasilkan sangatlah kaya. Rasa yang pertama muncul adalah asam dan pedas. Pedasnya berbeda karena menggunakan andaliman. Akhirnya saya mencobanya sendiri dan ternyata benar. Mulut terasa pedas dan hangat. Bumbunya merasuk sampai ke daging yang sangat empuk.

Saya senang dengan ayam gota di sini. Bukan saja karena ada masakan Batak yang saya bisa makan. Rasanya juga sungguh berkesan. Saya akhirnya punya alasan menerima ajakan teman untuk makan malam di lapo, apalagi sambil menikmati alunan musik Batak. Bahkan, bisa saja saya yang mengajaknya kali ini.

Harga: Rp.50.000 (satu porsi berisi dua potong ayam, belum termasuk pajak 10% dan servis 5%)
 
 
02DSCF8961Toba Tabo Lapo Batak
Bisa dibilang, makanan-makanan di lapo ini autentik karena dimasak oleh kepala juru masak yang adalah orang Batak Toba asli. Tempat ini juga menjadi tempat berkumpulnya orang Batak yang berdomisili di Jakarta. Di sini, mereka datang untuk merasakan masakan tanah kelahiran dan bersenang-senang bersama dengan bernyanyi lagu-lagu Batak. Pemilik lapo ini adalah ayah dari komposer musik Indonesia, yakni Vicky Sianipar, yang terkenal dengan komposisi lagu-lagu Batak.

Alamat: Jl. Dr. Saharjo No.90, Manggarai
Tel: +62(0)21-8351-847
Buka: Senin-Minggu (11:00-22:00)
Tutup: Hari Raya Natal dan Tahun Baru
– Ada alkohol
– Ada WiFi
– Ada smoking area
– Ada live music